Mendengarkan dalam Terang Kemuliaan: Iman, Harapan, dan Transformasi


Para sahabat Facebookers, selamat pagi dan selamat hari Minggu Prapaskah II, 16 Maret 2025. Bacaan-bacaan dalam misa hari ini mendorong saya untuk merenungkannya dari perspektif Karmelit dan Keluarga Kudus.

Di puncak gunung, Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Cahaya ilahi menerangi kegelapan dunia, mengundang kita untuk berhenti, memandang, dan mendengarkan. Di tengah masa Prapaskah yang penuh pertobatan, bacaan hari ini mengajak kita merenungkan janji Allah yang tak tergoyahkan, panggilan untuk hidup sebagai warga surga, serta kekuatan transformasi yang lahir dari keheningan. Semangat Karmelit dan teladan Keluarga Kudus menjadi penuntun kita dalam peziarahan iman ini.

Allah yang Setia pada Janji-Nya (Kejadian 15:5-12,17-18)
Allah memimpin Abram keluar, menunjukkan bintang-bintang, dan berjanji: “Inilah jumlah keturunanmu.” Abram percaya, meski tak melihat bukti. Ritual perjanjian dengan api dan asap menegaskan kesetiaan Allah yang melampaui logika manusia. Di sini, iman adalah sikap pasrah total, seperti Abraham yang “dibenarkan karena imannya” (Roma 4:3).

Di dunia yang serba instan dan penuh ketidakpastian, kita diajak meneladani Abram -berani mempercayai rencana Allah meski gelap. Semangat Karmelit, yang berakar pada kontemplasi dan ketaatan, mengingatkan kita bahwa janji Allah adalah fondasi hidup rohani. Seperti Keluarga Kudus yang setia dalam kesederhanaan, kita dipanggil untuk percaya bahwa Allah tak pernah meninggalkan umat-Nya.

Warga Kerajaan Surga yang Berjuang (Filipi 3:17-4:1)
Paulus menegaskan: “Kewargaan kita adalah di surga.” Di tengaj masyarakat yang mengagungkan kenikmatan duniawi, ia mengajak jemaat untuk “berdiri teguh dalam Tuhan.” Kata-katanya tajam: jangan menjadi musibah salib dengan mengejar hal-hal fana.

Gereja hari ini menghadapi godaan materialisme dan individualisme. Filipi mengingatkan: hidup kita adalah peziarahan menuju kemuliaan. Spiritualitas Karmelit, yang menekankan penyangkalan diri dan kerinduan akan Allah, selaras dengan pesan Paulus. Keluarga Kudus, dengan hidup bersahaja di Nasaret, menjadi contoh konkret: kesetiaan pada nilai-nilai surgawi dimulai dari rumah tangga yang berpusat pada Kristus.

Mendengarkan Sang Terang dalam Keheningan (Lukas 9:28b-36)
Di gunung Tabor, Yesus dimuliakan. Musa dan Elia -simbol Hukum dan Nabi- menyaksikan penggenapan janji Allah. Awan menaungi mereka, dan suara terdengar: “Dengarkanlah Dia!” Petrus ingin membangun tenda, tetapi Allah mengarahkannya pada hal esensial: mendengarkan.

Dunia modern gemar akan kebisingan. Transfigurasi mengajak kita mencari “gunung” tempat keheningan mempertemukan kita dengan Allah. Karmelit, melalui tradisi doa hening seperti Santa Teresa dari Avila atau Santo Yohanes Salib, menunjukkan bahwa mendengarkan adalah jalan transformasi. Keluarga Kudus, yang menghidupi sabda dalam keseharian, mengajar kita: mendengarkan Tuhan dimulai dari kesetiaan pada hal kecil, seperti Maria yang “menyimpan segala perkara di dalam hatinya” (Lukas 2:51).

Penutup: Peziarahan dalam Terang
Masa Prapaskah adalah waktu untuk kembali ke dasar: mempercayai janji Allah, hidup sebagai warga surga, dan mendengarkan Tuhan dalam keheningan. Semangat Karmelit mengajak kita naik ke “gunung” doa, sementara teladan Keluarga Kudus menuntun kita menghidupinya dalam relasi sehari-hari. Di tengah kegelisahan zaman, marilah kita menjadi peziarah yang tak henti mencari wajah-Nya, hingga kemuliaan Paskah menerangi seluruh hidup kita.

Spread the love